Matematika sering kali dianggap sebagai subjek yang kaku dan terlepas dari realitas budaya, namun di Tanah Papua, persepsi ini mulai bergeser melalui inovasi pembelajaran di SMPN 1 Jayapura. Para pengajar di sekolah ini menyadari bahwa kearifan lokal menyimpan logika matematika yang sangat tinggi, salah satunya terdapat pada Noken, tas tradisional masyarakat Papua yang telah diakui sebagai warisan dunia. Melalui program Hitung Noken, siswa diajak untuk mengeksplorasi konsep-konsep matematika modern, khususnya aljabar dan geometri, melalui struktur dan pola rajutan yang ada pada tas kebanggaan masyarakat Papua tersebut.
Noken bukan sekadar alat angkut, melainkan hasil dari teknik anyaman yang melibatkan perhitungan jumlah simpul yang sangat presisi untuk menghasilkan pola yang simetris dan kuat. Siswa di SMPN 1 Jayapura mulai membedah bagaimana variabel-variabel dalam aljabar dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan bahan serat kayu berdasarkan ukuran tas yang ingin dibuat. Fokus pembelajaran ini adalah membantu siswa memahami Aljabar bukan sebagai deretan huruf yang membingungkan, melainkan sebagai alat bantu untuk memecahkan masalah praktis dalam proses pembuatan karya seni yang mereka temui setiap hari di pasar maupun di rumah.
Dalam sesi praktik, siswa melakukan observasi terhadap berbagai jenis Pola Anyaman Noken, mulai dari pola lubang tunggal hingga pola yang lebih rumit dengan gradasi warna. Mereka belajar mengidentifikasi deret aritmatika dalam penambahan jumlah simpul di setiap baris anyaman. Misalnya, untuk membuat bentuk Noken yang melebar, siswa harus menghitung rasio penambahan lubang secara konsisten. Integrasi budaya ini membuat suasana kelas menjadi lebih inklusif dan membanggakan bagi siswa asli Papua, karena identitas mereka diakui sebagai bagian penting dari ilmu pengetahuan global yang sedang mereka pelajari.
Pemanfaatan objek budaya dalam pembelajaran matematika di Jayapura ini terbukti meningkatkan minat belajar siswa secara signifikan. Matematika tidak lagi terasa asing atau berasal dari luar, melainkan terasa sangat dekat dan fungsional. Siswa diajarkan bagaimana menerjemahkan pola visual anyaman ke dalam persamaan linear sederhana. Dengan cara ini, kemampuan abstraksi siswa terlatih secara alami. Mereka mulai menyadari bahwa nenek moyang mereka adalah matematikawan ulung yang mampu mengaplikasikan prinsip geometri dan kekuatan material tanpa harus menggunakan kalkulator canggih, namun tetap menghasilkan produk yang tahan lama.