Pelaksanaan program ini dilakukan secara kreatif agar siswa tidak merasa terbebani atau menganggap bahasa daerah sebagai pelajaran yang membosankan. Melalui berbagai kegiatan seperti lomba bercerita, penulisan puisi, hingga pementasan drama dalam bahasa lokal, siswa di SMPN 1 Jayapura diajak untuk mengeksplorasi kekayaan kosakata yang unik. Para guru bahasa berperan sebagai mentor yang memperkenalkan dialek-dialek asli dengan cara yang menyenangkan. Penguatan identitas budaya melalui jalur literasi ini dianggap sangat efektif karena menyentuh aspek kognitif dan afektif siswa secara bersamaan dalam lingkungan akademis yang formal.
Salah satu tantangan terbesar di wilayah urban seperti Jayapura adalah percampuran berbagai latar belakang suku, yang seringkali membuat penggunaan bahasa daerah asli terpinggirkan oleh bahasa gaul atau bahasa Indonesia yang dominan. Program di SMPN 1 Jayapura ini justru memanfaatkan keragaman tersebut sebagai kekuatan. Siswa dari berbagai suku diajak untuk saling bertukar kosakata dan memahami makna filosofis di balik ungkapan-ungkapan tradisional masing-masing. Hal ini menumbuhkan rasa saling menghormati dan mempertebal semangat persatuan di tengah keberagaman yang ada di tanah Papua.
Secara teknis, sekolah juga mendokumentasikan karya-karya literasi siswa ke dalam bentuk buku saku digital dan majalah dinding sekolah. Literasi tidak hanya berhenti pada kemampuan berbicara, tetapi juga membaca dan menulis dalam aksara atau struktur bahasa yang benar. Dengan mendokumentasikan bahasa tersebut, sekolah sedang melakukan upaya penyelamatan terhadap warisan lisan yang rawan punah. Inovasi kurikulum muatan lokal di SMPN 1 Jayapura ini menjadi bukti bahwa modernitas pendidikan tidak harus mengorbankan nilai-nilai tradisional, melainkan bisa berjalan beriringan untuk memperkaya wawasan siswa.
Dukungan dari para tokoh adat dan orang tua siswa sangat mengalir deras bagi program ini. Mereka melihat anak-anak mereka kembali bangga menggunakan bahasa ibu di ruang-ruang publik. Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri siswa sebagai putra-putri daerah yang memiliki jati diri yang jelas. Selain itu, penguasaan bahasa daerah juga membantu siswa dalam memahami norma-norma sosial dan etika pergaulan dalam masyarakat adat. Program Jayapura yang berwawasan budaya ini diharapkan dapat melahirkan generasi yang mahir berkomunikasi secara global namun tetap rendah hati dan bangga dengan tradisi lokalnya.