Tanah Papua memiliki kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya. Namun, seringkali informasi yang beredar di media massa atau media sosial masih didominasi oleh sudut pandang yang terbatas atau berita-berita yang belum tentu mencerminkan keindahan yang sesungguhnya. Untuk mengubah persepsi tersebut, diperlukan suara-suara segar dari putra-putri daerah yang tinggal dan merasakan langsung kehidupan di Bumi Cendrawasih. Melalui upaya untuk latih siswa dalam membangun Narasi Positif Papua, sekolah berupaya memberikan kekuatan kepada generasi muda untuk menceritakan sendiri identitas mereka kepada dunia luas.
Kegiatan yang melibatkan siswa SMPN 1 Jayapura ini berfokus pada penguasaan keterampilan menulis kreatif dan jurnalistik dasar. Siswa diajarkan bagaimana menyusun sebuah cerita yang menarik, mengambil sudut pandang yang unik, serta menggunakan bahasa yang menginspirasi. Materi pelatihan mencakup teknik wawancara, cara mengambil foto pendukung yang estetis, hingga etika berkomunikasi di ruang publik. Dengan membekali mereka dengan keterampilan ini, siswa tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tetapi bertransformasi menjadi produser konten yang mampu menyajikan fakta secara menarik dan bertanggung jawab.
Tujuan utama dari program ini adalah untuk bangun narasi positif Papua di mata publik nasional maupun internasional. Siswa didorong untuk menuliskan cerita tentang kesuksesan teman-teman mereka di sekolah, keunikan tradisi di kampung halaman, hingga potensi wisata tersembunyi yang ada di sekitar Jayapura. Narasi positif ini sangat penting untuk membangun citra daerah yang optimis, maju, dan damai. Ketika dunia melihat Papua melalui mata para remajanya, yang tampak adalah semangat belajar, keberagaman yang harmonis, dan kekayaan seni yang terus berkembang mengikuti zaman.
Media utama yang digunakan dalam gerakan literasi ini adalah melalui blog sekolah dan blog pribadi siswa. Blog dipilih karena memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengekspresikan pikiran secara lebih mendalam dibandingkan media sosial yang serba singkat. Di dalam blog, siswa belajar mengelola sebuah platform digital secara mandiri, mulai dari mengatur tata letak hingga melakukan optimasi agar tulisan mereka mudah ditemukan oleh pembaca. Proses ini melatih ketekunan dan konsistensi, karena membangun sebuah media informasi membutuhkan dedikasi untuk terus mengunggah konten secara berkala.
Selama proses pelatihan, guru bertindak sebagai editor dan mentor yang memberikan masukan membangun terhadap tulisan siswa. Guru memastikan bahwa konten yang dihasilkan tetap mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan menghindari unsur provokasi yang negatif. Selain itu, siswa juga diberikan pemahaman mengenai literasi media dan cara melawan hoaks. Mereka diajarkan bahwa kekuatan pena (atau ketikan) di era digital sangat besar, sehingga harus digunakan untuk tujuan yang baik dan mempersatukan. Pendidikan karakter berbasis literasi ini menjadi modal penting bagi siswa dalam menghadapi derasnya arus informasi di masa depan.