Inti dari kegiatan ini adalah pelaksanaan workshop teknik yang berfokus pada rekayasa sederhana. Para siswa diajak untuk berpikir kritis dalam mencari alternatif material yang kuat namun terjangkau. Di SMPN 1 Jayapura, kurikulum merdeka diimplementasikan melalui praktik langsung di bengkel kerja sekolah. Siswa tidak hanya belajar teori fisika tentang keseimbangan dan beban, tetapi langsung menerapkannya dalam sebuah desain fungsional. Proses ini melatih kemampuan pemecahan masalah (problem solving) siswa, di mana mereka harus memastikan bahwa alat yang mereka buat aman dan nyaman untuk digunakan oleh orang lain.
Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk buat kursi roda yang desainnya disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Siswa belajar melakukan pengelasan sederhana, perakitan roda, hingga pembuatan sandaran yang ergonomis. Yang membuat proyek ini istimewa adalah penggunaan bahan ekonomis seperti pipa besi standar, roda bekas sepeda yang masih layak, hingga kain terpal berkualitas tinggi untuk alas duduk. Meskipun menggunakan bahan yang terjangkau, standar keamanan tetap menjadi prioritas utama. Guru pembimbing memastikan bahwa setiap sambungan dan struktur rangka mampu menahan beban dengan stabil, sehingga produk yang dihasilkan benar-benar bermanfaat.
Melalui kegiatan di Jayapura ini, siswa mendapatkan pelajaran berharga tentang kemandirian teknologi. Mereka mulai memahami bahwa dengan kreativitas, keterbatasan fasilitas atau biaya bukanlah penghalang untuk menciptakan sesuatu yang berguna. Program ini juga menumbuhkan rasa kepedulian yang mendalam terhadap teman-teman atau warga penyandang disabilitas. Dengan membuatkan alat bantu, siswa belajar untuk menghargai keberagaman dan pentingnya aksesibilitas bagi semua orang. Inilah esensi sejati dari pendidikan inklusif, di mana setiap individu didorong untuk berkontribusi bagi kesejahteraan kelompok yang lebih rentan.
Aspek kewirausahaan sosial juga tersirat dalam program ini. Kursi roda hasil karya siswa SMPN 1 Jayapura ini rencananya akan didonasikan kepada masyarakat kurang mampu di sekitar sekolah atau puskesmas setempat yang membutuhkan tambahan alat bantu. Pengalaman memberikan hasil karya sendiri kepada orang yang benar-benar membutuhkan memberikan dampak psikologis yang luar biasa bagi siswa. Mereka merasa dihargai dan melihat bahwa ilmu yang mereka pelajari di sekolah memiliki kaitan langsung dengan perbaikan kualitas hidup manusia. Ini adalah motivasi belajar yang jauh lebih kuat daripada sekadar mengejar nilai ujian.